Skip to main content

Boy Candra Bilang ‘Cinta Paling Rumit’ itu seperti Basa-basi di Bawah Ini

Ilustrasi: Pixabay

Sebelum saya membagikan apa yang ingin saya bagikan perihal membangun hubungan antara kedua insan yang sedang dan saling membina hubungan, terlebih dahulu saya ingin katakan, bahwa saya bukan motivator apalagi pawang cinta, jujur, itu bukan saya. Saya hanya mau bilang begini kalau tidak senang dengan tulisan ini, silakan tinggalkan tidak perlu melanjutkannya sampai akhir. Tetapi jika Anda penasaran, silakan tuntaskan saja bacaan ini dan setelah itu silakan caci maki saya. Sederhana, kan? ini semua gegara kesukaan saya berceloteh melalui tulisan. namun, jika Anda menemukan kalau saya sok menggurui, maafkanlah saya dengan cara caci maki saja saya, seeprti yang sudah saya katakan di atas.

Baca Juga: 
Persetubuhan dalam Cerita yang tak Jadi

Ok, kita mulai. Dari mana? Kalau dari mata turun ke hati, bisa?

Pertama, saya sering ditanya dan akhirnya diminta untuk menjawab. Pertanyaannya seperti ini, “Kak, bagaimana cara mempertahankan hubungan kalau ada rasa cemburu di antara kedua pasangan yang sedang menjalin asmara? Semoga ada jawaban dari kak yang mungkin bisa membantu saya untuk menjawab pertanyaan ini yang sering ditanyakan oleh teman kepada saya.”

“Oke, ade. Saya mencoba menjawab pertanyaan itu, tapi maaf sebelumnya kalau seandainya jawaban tidak memuaskan, silakan temukan jawaban pada yang lain. Ah, alasanmu, dik sengaja bilang ada teman yang Tanya, padahal mungkin itu dirimu. Jangan jual orang biar dapat unutng woee, bisik saya dalam hati.


Sebelum saya membalas chat tersebut, tiba-tiba muncul pesan dari orang yang sama dengan sebuah curahan hati yang mungkin sudah disiapkan sebelumnya. Di akhir chat tersebut ada kalimat dalam kurung, (Kok, kenapa bisa jadi curhat ya, kak). Ini sering terjadi. Dibuka dengans ebuah pertanyaan dan berakhir dengan curhatan panjang.

Anda saja kaget apalagi saya.

Merasa cemburu? Menurutmu cemburu itu baik atau tidak? Yang baik dan tidak baik itu prasangkamu saja.

Sebab, ketika dalam diri Anda timbul rasa cemburu, maka Anda bisa tahu berapa besar kualitas cintamu untuk dia dan juga sebaliknya. Kalau hanya secuil kuku, buat apa menyimpan cemburu?

Cemburu itu baik selagi dalam batasan yang wajar dan tanpa harus melabrak salah satu pihak. Datang dari cari duduk persoalannya. Berpikirlah sebelum bertindak sebab, jika salah ambil tindakan maka cemburu itu akan berbuah tidak baik atau buruk.

Sekali lagi, saya ingatkan, saya bukan motivator.

“Kami sering ribut dan dia selalu bentak-bentak saya, kak?"

Biasanya yang begini dan yang biasanya itu terjadi pada perempuan. Iya, saya sering dapatkan curahan hati seperti ini.

“Pernah dengar bapak dan mama ribut di rumah? Pernah lihat bapak dan mama berantem eh bertengkar? Bapak atau mama pernah berbuat kasar pada dirimu? Tidak, kan?

 “ Ya, kalau merasa tidak pernah mengalami hal itu, kenapa harus bertahan dengan hubungan seperti itu?"

“Kak, saya terlalu sayang dia. “

Apakah rasa sayangmu kepada bapakmu dan ibumu lebih besar dari rasa sayangmu untuk dia yang Anda katakan terlalu sayang itu? Apakah rasa sayangmu pada dia tidak lebih besar dari rasa sayangmu pada dirimu sendiri?

“Tidak, kak.”

“Kalau tidak mengapa harus bertahan pada sesuatu tanpa kepastian yang penuh dengan kesakitan dan tangisan?”

Baca Juga: 
Seringkali Kita Takut Berkata Jujur pada Sesuatu yang Sebenarnya Tidak

Saya hanya mau bilang, jangan dulu buat janji kalau memang tidak bisa untuk saling jaga dan bukan untuk saling silang atau cari selingan. Janji yang dijanjikan itu bisa melahirkan ingkar yang berlipat ganda. Sebab, persoalan cinta bukan persoalan mencari simpatisan saat kampanye Gubernur , Bupati, dan DPR. Kalau mereka-mereka itu jelas, buat janji hanya untuk pemanis saja atau seperti potongan lirik lagu manis di bibir, setelah itu berleha-leha dan makan janji sendiri.

Berjanji untuk bersama selamanya bukan sesaat setelah tersesat dalam buaian janji semata. Jika demikian, jangan menunggu lama dalam sebuah sandiwara cinta. Pergi dan perjuangkan seseorang yang pantas diperjuangkan. Atau dengan lebih halus, berjuanglah bersama pribadi yang saling meperjuangkan untuk menjadi lebih baik bukan sebaliknya.

Sekali lagi, saya sampaikan bahwa saya bukan pawaang cinta. Kalau merasa risi, silakan tinggalkan bacaan ini.

Yang paling sering terjadi itu, begini, kak, "dia tu selalu ini dan itu (pokoknya kamu kakak tau lah). “

"Oh itu, jangan sampai antara kamu dua tidak ada komunikasi yang membangun, hanya itu-itu saja.
Misalnya, Saya cinta kau. Kau cinta saya. Sudah makan ko belum. Tidur tepat waktu. Jangan lupa berdoa (ini yang penting), jangan lupa simpan saya punya makan, jangan lupa minum air yang banyak.

Kalau pembicaraanmu seputar itu saja dan tanpa ada diskusi edukatif dan yang lebih jauh tentang latar belakang kehidupannya dan keluarganya dan juga sebaliknya (bukan sok kepo, tapi ini penting) maka yang terjadi di sana tidak akan ada keterbukaan dan arah hubungan yang jelas.

Kalau Anda pacaran hanya menghindar dari kata jomlo, maka buat apa pacaran. Mending, sendiri dan menikmati kebahagiaan tanpa ada harus saling cemburu.

Sekali lagi, saya bukan motivator apalagi pawang cinta

#sayabukanmotivator #bukanpawangcinta #terimajasacurhat

Fian N, lelaki yang seringkali mendapati dirinya sedang menjadi bahu untuk yang rapuh.



Comments

  1. Salam Kaka, saya baru pertama berkunjung ke Blog ini. Salut buat karya-karyanya, semangat terus dalam melahirkan inspirasi. Ingat kunjung balik ke blog saya yang masih baru, karena butuh masukan dan 'catatan' kritis dari Kaka Alfianus. Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga, Imaji Sofi. Maaf saya juga baru belajar blog. Mari kita sama sama belajar dan berbagi.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...