Skip to main content

Aku Pulang

Ilustrasi: Pixabay

1.
Aku pulang. Sebelum malam tidur, dari sebuah kamar kontrakan, aku, rindu, dan mimpi bertarung; pulang atau tunda. Sekarang atau nanti. Malam seakan koyak. Aku berontak menahan gejolak.

Pagi telah tiba. Semua rindu belum dikemas tuntas. Mimpi masih beterbangan. Malam gelantungan pada sdut-sudut mataku. Akan jadi apa semuanya ini, sekarang dan kelak?

2.
Aku pulang. Aku akan jadi seorang pencerita yang penulis. Menarasikan segala rindu dari rumah yang kelak akan jadi kenangan. Aku akan ceritakan kepada siapa saja yang kujumpai di jalanan, rumah makan, tempat persinggahan, mungkin juga aku akan menulisnya pada secarik kertas lalu membiarkan angin menerbangkan secarik kertas berisikan kenangan itu untuk menemukan siapa pembacanya. Aku mungkin akan melebih-lebihkan ceritanya. Bukannya tugas seorang pencerita yang penulis harus demikian? Mengikuti selera pembaca (pasar) agar cerita itu laku habis dibaca?
Orang-orang kadang tidak adil. Lebih memilih yang terang dan langsung daripada yang terlalu abstrak. Dan, aku memilih yang terang.

3.
Aku pulang. Kelak, ketika sedih datang aku akan menangis bersamamu. Aku membiarkan air mataku jelma anak sungai yang hulunya adalah telingamu. Bukan karena terlalu sedih. Bukan karena terlalu cengeng. Ini tentang segala yang lalu yang kelak akan berlalu. Sebab, aku tak akan menemukan kenangan itu seperti dulu selain wangi kekinian yang telah merenggut habis segala sepinya desa.

4.
Aku pulang. Di depan pintu, ibu menunggu. Seketika, aku ingat waktu kecil dulu. Ibu akan membuka lebar kedua tangannya dan memeluk aku yang berlari menujunya.
Memeluk aku erat-erat dan menggendong sambil berputar. Aku tertawa lepas. Dan meminta ibu melakukannya berulang kali.
Meskipun ibu lelah dan pusing, tetapi ibu tak akan pernah menolak untuk tidak melakukannya. Aku akan disayang. Dibelainya hingga tidurku lelap.

Air mata ibu, anak sungai yang meluap, musim hujan yang tiba-tiba menghujam tubuh rindu. Pipiku tak semulus dulu. Ditumbuhi kedewasaan. Dagu dan bagian wajah yang lain dipenuhi segala kegemassan. Karena setiap perempuan dewasa yang melihatnya, akan setengah mati dengan penampakan itu. Sangat manusiawi sekali.

Ibu tak ragu memeluk aku. Dibelainya rambutku yang kini kriting. Ada satu dua bunga putih di kepalaku. Ada satu dua bekas jerawat pada wajahku. Bekas luka jahit pada pelipis kanan mataku, bekas luka masa kecilku dulu.

Ibu memeluk aku sekali lagi. Dan lagi. Lalu aku tenggelam dalam pelukan masa lalu. Jauh pada sebuah kampung yang masih dipenuhi pelita saat malam menjelang. Yang masih dipenuhi kayu-kayu api yang bertabrakan pada sebuah tungku batu.
Jauh pada sebuah kebun tepat di belakang rumah. Jauh pada jalanan yang dilalui oleh masa kecilku. Saat hujan deras  beserta guntur dan kilat yang menggelegar. Saat ibuku dulu pernah dipagut ular. Saat ibuku dulu pernah menangis karena menyaksikan aku tergolek karena sakit yang mematikan.

Setelah lepas dari segala kenangan itu, aku melihat bapak yang melihatku. Bapak geleng. Aku senyum. Aku malu. Bapak tak setegar dulu. Kini kurus. Tulang-tulang pipinya tampak lebih jelas. Rambutnya, rambutnya kini lebih banyak yang memutih.

Bapak belum beranjak. Aku menemui dirinya. Melepaskan kecupan. Memeluk dirinya erat-erat. Bapak tak pernah sekalipun memukul diriku.  Bapak yang dulu pernah mengajakku ke sawah, ke bukit untuk menggembalakan  kawanan kerbau yang dititip orang kepada bapak dengan imbalan yang tak pernah disepakati sebelumnya.

Jika ada kerbau yang hilang, bapak akan mencarinya sampai menemukannya kembali. Tak pernah mengeluh karena dingin. Tak pernah mengeluh kaki tertusuk duri. Tak pernah mengeluh ketika punggungnya dihujam terik surya.

Aku yang dulu seringkali tertawa lepas di atas pundaknya. Aku yang dulu paling cengeng kepada bapak. Sekembalinya dari sawah, aku akan memeriksa bawaan bapak dalam sebuah tas samping yang dibuat dari karung bekas. Bapak pandai melucu. Bapak akan mengatakan tidak ada pada sesuatu yang ada. Jambu biji, mangga (ada ketika musimnya tiba), burung tangkapan seperti burung puyu dan burung sawah lainnya.
Jika sempat, bapak akan mencari ikan dan meminta ibu untuk mengolahnya di rumah.

Aku melepaskan pelukan. Melihat bapak; menemukan aku.

5.
Aku pulang. Tinggal di antara segala kemacetan pikiran. Suasana kampung yang masih kental dengan ritual gosip. Setiap orang akan menghargai seseorang jika sudah memiliki status atau kedudukan yang mapan di tengah masyarakat.

6.
Aku pulang. Ibu akan banyak berbicara perihal kampung dan segala perubahan.

7.
Aku pulang. Bapak akan mengajakku ke sawah. Melihat sawah. Mengatur pengairan. Memindahkan hewan pada rerumputan hijau. Pergi ke bukit. Pergi ke masa kecil.

Melihat bapak, menemukan aku

8.
Aku pulang. Setiap pagi, bapak membangunkan adik dari tidur. Meminta adik buatkan secangkir kopi. Aku masih tidur. Sibuk mengeja mimpi.

9.
Aku pulang. Ibu menyiapkan sarapan pagi untuk kami. Masakan dan makanan masa kecil menggugah selera.

10.
Aku pulang. Semua rumah dipenuhi tertawa. Isi kepala semakin penuh dengan angan.

11.
Aku pulang. Aku pulang. Selera masa kecil mulai hilang. Cinta dan cita tumbuh bersamaan. Mencari dan tak ingin segera menemukan.

12.
Aku pulang. Suara ayam ada di dalam hape. Jalanan dibuat sibuk oleh suara klakson motor dan mobil serta knalpot kebisingan.

13.
Aku pulang. Menetap atau pergi? Mencari lagi atau segera menemukan?

14.
Aku pulang. Melihat anak-anak bermain hape. Panggilan dari ayah dan ibu tak pernah menemukan telinga yang tepat. Suara keras dibalas dengan suara keras.

15.
Aku pulang. Orang-orang bertanya-tanya. Apa yang dia lakukan selama berada di sana? Apakah dia pernah tidur? Apakah jam makannya teratur?

16.
Aku pulang. Semua sibuk dengan kesibukan masing-masing. Anak-anak muda yang santai dan hanya penuh dengan angan-angan.

17.
Aku pulang. Aku ingat, aku sudah bisa makan siang hanya bila semua hewan (kuda, kerbau, sapi, babi dan kambing) peliharaan di rumah sudah diberikan minum.

18.
Aku pulang. Hari-hari penuh dengan campuran semen. Menata rumah yang bukan untukku menetap.

19.
Aku pulang. Kerja apa?

20.
Aku pulang. Belum ingin berkeluarga.

21.
Aku pulang. Merayakan kebebasan dan kesendirian.

22.
Aku pulang. Menata ulang segala rencana.

23.
Aku pulang. Mulai bekerja. Menemukan sedih. Kematian ada di mana-mana. Isi rumah, disesaki tanda tanya. Isi kepala dipenuhi kemarahan. Satu per satu orang-orang yang disayang pergi dan tak kembali. Semua telah hilang. Selain kenangan.

Aku pulang. Tak lagi bekerja. Ke sawah. Kepanasan. Kehujanan. Penuh dengan ketidakjelasan.

24.
Aku pulang. Bukan kapan tetapi sekarang sebelum besok datang lebih awal dari biasanya. Sebab, semuanya akan sia-sia seperti menjaring angin. Tabur benih kesabaran. Hilangkan ketakutan. Rangkul kepercayaan. Jalani apa adanya. Semesta dan segala isinya jalan beriringan.

Aku pulang. Indah rencana-Mu, Tuhan. Di dalam hidupku.

Olakile, 2019

Comments

Popular posts from this blog

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...