Skip to main content

Ada Rumah Dalam Tubuhku (Ketika Penulis Menjadi Pembaca)

Ilustrasi: Arashi Group

ada rumah dalam tubuhku, 
kaulah tamu terkahir 
yang selalu kuingat
(Ada Rumah Dalam Tubuhku)

Rasanya baru kemarin, tapi entah apa namanya. Seperti rindu, apakah dendam harus dibalas tuntas? Kehilangan dan kepergian tak dapat dielak oleh siapa pun.Tugas kita hanya menerima lalu merelakannya dengan penuh ikhlas dan itu yang terakhir kali aku melihat kita (Yang Terakhir).

Puisi menjadi salah satu bentuk pelampiasan yang paling intim antara manusia dengan dunia pengalaman imajinasinya dalam menghadapi kenyataan hidup yang terjadi di sekitarnya. Fian N
Manusia akan digiring ke batas-batas yang tak biasa. Menembus kabut tabu, membongkar kemapanan budaya dan kebiasaan.

Baca Juga: Pertemuan yang tak utuh Dalam Sebuah Mimpi

Ada Rumah Dalam Tubuhku (selanjutnya: ARDT) adalah jeritan-jeritan dari dalam kesunyian yang merangkak naik ke telinga-telinga nurani pembaca. Ditulis dan dikumpulkan dari tahun 2018-2020. Ini adalah sebuah bentuk terima kasih kepada semesta dan segala isinya yang sudah menghadirkan pengalaman-pengalaman puitis yang begitu bermakna jika disia-siakan.

Adanya kecemasan, kegelisahan, yang datang dari dalam kesunyian yang dipenuhi kebisingan, maka lahirlah puisi. Hal itu nyata dalam kesedihan-kesedihan yang tak pernah berkesudahan, adalah hujan tanpa musim yang/tumpah dari kedua telaga tepat//di atas bibirmu/ (Hujan Tanpa Musim). Menjadi jelas, puisi mampu mencegat siapa saja ketika melahirkan beragam kesedihan. Namun, masih ada manusia yang berlaku demikian. Sebab, manusia adalah himpunan-himpunan ingin yang meronta-ronta penuh keserakahan. Tetapi, puisi juga hadir dari rasa yang paling bahagia dan dari kesakralan senyum yang paling manja.

Baca Juga: Di Hadapan Buku dan Puisi-puisi Lainnya

ARDT yang kelak sampai pada pelukan pembaca yang budiman, saya boleh katakan bahwa itu mungkin sebuah kecelakaan pembelian yang pernah pembaca alami selama membeli sebuah buku bacaan dan puisi khususnya. ARDT tidak seperti buku-buku puisi yang lain, yang selalu membuat pembaca tersenyum dan selalu menarik perhatian untuk dibaca berkali-kali. Sebab, setelah menulis saya membaca ulang lagi puisi-puisi tersebut dengan posisi sebagai pembaca, saya boleh katakan, ini usaha yang melahirkan banyak caci-maki dari pembaca. Bagaimana tidak, puisi-puisi di dalam ARDT melahirkan banyak beragam kegaduhan dalam diri pembaca seperti hujan yang jatuh/ternyata semacam rindu yang tak pernah//sampai. 

Baca Juga: Boy Candra Bilang ‘Cinta Paling Rumit’ itu seperti Basa-basi di Bawah Ini

Ada banyak yang mengatakan bahwa, lebih baik membaca karya sastra yang bukan puisi. Sebab, puisi kadang membingungkan dan sulit dimengerti. Saya yang juga sebagai pembaca sepakat dengan hal tersebut. Ya, benar, tetapi bagaimana Anda tahu  bahwa Anda tidak mengerti jika tidak membacanya? Tentu setiap pribadi memiliki jawabannya masing-masing. Tetapi, tidak semua pertanyaan harus dijawab seperti pertanyaan ini, bagaimana aku bisa melukaimu?

Sampai pada titik ini, ketika membaca ulang tulisan sendiri, saya merasa sedang mencaci maki diri sendiri. Tetapi, saya sadar bahwa menulis saja tidak cukup jika tidak membaca. Jokpin yang adalah nama keren dari Joko Pinurbo pernah berkata begini, ketika membaca ulang puisi-puisi lama saya, saya ingin menulis ulang. Artinya, setiap pengalaman hidup bisa melahirkan multitafsir yang beragam. Tidak heran jika Jokpin berkata demikian. Oleh karena itu, bukan tidak puas tetapi saya sadar jika tidak menulis dan menyerahkan tulisan saya kepada pembaca, mana mungkin saya tahu bahwa saya punya banyak kekurangan. Hal ini bukan berarti saya harus berubah seturut kemauan pembaca melainkan saya harus siap menerima segala masukan, baik itu kritikan dan saran. Sebab, hanya dengan begitu, saya bisa mengukur kapasitas saya dalam hal menulis.
Penulis yang baik adalah pendengar yang bijak. Fian N

Penulis dan pembaca itu dirundung jarak yang gaib, kadang dekat, dekat sekali, dan sangat dekat. Tetapi pada posisi tertentu, pembaca dan penulis harus berjarak. Memberi dan menilai secara jujur sebagai pembaca dan penulis. Pembaca bebas tetapi tidak sebebasnya. Penulis bebas tetapi juga harus bertanggungjawab atas karyanya.

Akhirnya, saya sadar bahwa membaca dan menulis saja tidak cukup tetapi harus bisa mendengar juga. Dan, sebenarnya saya ingin memberi keterangan lebih jelas tentang puisi-puisi yang saya tulis tetapi saya tidak mau rasa penasaran pembaca tuntas sebelum membaca utuh karya saya. Tetapi saya sarankan, beli buku ini jika Anda ingin membacanya bukan karena Anda kasihan pada saya. Atau, jangan sampai setelah membeli buku ini, Anda jadikannya sebagai alas kaki. Itu bahaya! sebab Anda bukan berurusan dengan saya tetapi dengan setiap kata-kata yang Anda injak! Ini bukan ancaman dan bukan nasihat tetapi hanya sebagai rambu-rambu.

Terima kasih, saya nantikan kritikan yang paling kritik dan saran yang membangun. Silakan kontak saja di 082144147587 biar Anda tidak terlalu penasaran.

sebab, masih ada pesan 
yang belum disampaikan 
dan rindu yang masih tertunda 
dari tanggal yang belum sempat kita tanggalkan.
(Yang Terakhir)

Fian N, kecil di Olakile, besar di Maumere. Saat ini menetap di Boawae-Olakile. Menulis dan membaca adalah keisengan yang dilakukan di waktu-waktu sela bantu kerja sawah dan pelihara babi. Bersama temannya, saat ini sedang bangun sebuah pondok baca di Olakile-Pogopeo.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...