Skip to main content

Syukur, Aku Bukan Penyair

Ilustrasi: Pixabay

Aku bukan penyair
Aku bukan kenangan
Tetapi, aku akan selalu dikenang
Seperti para penyair. 

Apa yang mau harapkan kelak jika menjadi seorang penyair? Apakah kau akan merasakan hidup yang lebih baik atau ingin kaya dengan menjadi seorang penyair? Apakah kau siap menjadi rumah segala luka yang tumpah pada sajak dan juga puisi-puisimu? Apakah kau bersedia menjadi penyair yang hanya  dijadikan tempat bersandar bagi mereka yang merasa paling patah hati? Apakah kau siap menjadi penyair yang paling bahagia ketika menulis sebuah kesedihan? Apakah mau bersedia dijuluki makhluk waras yang paling aneh lagi gila? Apakah kau bersedia menjadi penyair yang paling setia menulis perpisahan orang lain? Apakah kau bersedia menjadi penyair yang meramalkan kematian sebuah kehidupan?

Semua bentuk pertanyaan itu, tiba-tiba menjelma kenangan. Tanpa kau duga, semua itu tetap menjadi kenyataan. Kau akan menjadi orang yang paling tabah setelah terlalu sabar menjadi telaga yang siap menerima hujan yang jatuh dari langit-langit sedih. Semua itu mengalir jauh sampai kau tak mampu mengejanya dengan diksi.

Sebab, tak ada yang lebih tabah
Dari seorang penyair
Menulis luka, ditinggalkan saat bahagia
Tak ada yang lebih setia 
Dari seorang penyair
Menjadi padang paling lapang
Tak ada yang lebih tegar
Dari seorang penyair
Dijadikan sandaran 
Tanpa kepastian. 

Menjadi penyair berarti mampu menjadi kopi sekaligus gula untuk dirinya sendiri. Ada manis dan juga pahit. Penyair bisa menjadi pribadi yang paling bahagia. Dalam waktu yang bersamaan pula, ia menjadi pribadi yang paling dikasihani. Sebab, menjadi penyair berarti siap menjadi kangen oleh siapa saja termasuk diriku.

Apakah dirimu siap jika tanpa dirimu? Kata bertanya padaku. Aku berharap, jika sebentar sunyi datang bertandang ke rumahmu, jangan kau berikan pertanyaan itu padaku. Dan jangan sekali-kali kau menutup pintu rumahmu untukku masuk ke dalamnya. Aku berharap penuh agar semua itu dipenuhi.

Jika itu yang kau inginkan, silakan datang kapan pun dan kau juga silakan pergi jika tak ada lagi betah yang tinggal di sana. Tak ada tanda larangan di depan pintu rumahku. Apalagi sampai mengusir dirimu. Kata meyakinkanku penuh sungguh.
Jujur, aku sangat bahagia mendengarnya. Apalagi memberiku kesempatan yang lebih lama. Mungkin sampai aku jadi debu. Sampai aku jadi patah dan tumbuh lagi. Aku akan sangat bahagia.

Oke, mari kita mulai. Berjalan menyusuri masa lalu yang belum. Menyeka segala sisa tangis. Berbagi bahagia bersama. Kata mengajak dan aku mengikutinya dari belakang sembari mengeja setia segala yang berguguran sepanjang jalan dan persinggahan.

Dan syukur, aku memang dilahirkan bukan untuk menjadi seorang penyair ketika membaca dan menulis cerita ini. Sebab, yang berat bukan hanya rindu tetapi memikul setiap perasaan yang gugur dari segala yang tak sempat dijamah oleh kenyataan. Dan penyair, itu fiksi.

Maumere, 2019


Fian N, saat ini sedang mendewasakan cita-citanya yakni ingin tidur lebih nyenyak. Memgolah Pondok Baca Mata Leza.

Comments

Popular posts from this blog

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Jejak Kaki Siapa Itu?

Ilustrasi: Pixabay Pernah sekali, ia membawaku jauh ke tengah hatimu yang lapang dan penuh kelegaan. Aku diam di sana sampai menikmati beberapa rindu yang jatuh dari kepala dan mulutmu.  Aku pernah lalu-lalang di sana dan bahkan ada banyak tapak-tapak yang hampir lupa aku hapus, terlalu nyaman pun hangat.  Di dan dengan kaki ini, aku pernah menghabiskan beberapa kesempatan yang sesat. Di hatimu yang tenang, aku tinggalkan jejak yang luka dan menyakitkan. Pernah kutempuh perjalanan yang melelahkan sekaligus penuh kemaksiatan.  Baca Juga:  Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh Ya, memang kakiku yang malang juga jalang, tinggalkan jejak yang memilukan serentak memalukan. Aku tinggalkan bilur-bilur kehancuran dengan penuh kesadaran. Meninggalkan jejak yang penuh kesesatan. Ada nanah busuk yang bersumber dari kaki ini. Sampai-sampai, aku menjadi yang paling bangsat untuk sebuah kebaikan.  Dari kaki ini, aku merindukan sebuah kelumpuhan agar aku mengerti sebuah perjuangan menj...