Ilustrasi: Pixabay
Aku melihat seorang ibu berjalan, menelaah setiap lelah pada jalan-jalan yang dilaluinya. Bau menyengat dari dalam got. Suara ribut entah dari mana. Tikus-tikus menjerit kelaparan. Dari dalam rumah, sebuah keluarga asyik bercengkrama menikmati roti tawar yang diolesi selai nanas. Enak bukan main.
Ibu itu terus berjalan. Sunyi tak dapat lagi dieja. Di perut, tinggal tentram segala kelaparan. Di leher, sungai telah kering dari musim yang lengang.
Aku ketinggalan tanya. Tak sempat kualamatkan senyum. Ibu itu hilang di ujung jalan. Tubuh lusuh, sibuk di kepalaku. Ingin segera menemukan wangi tubuhnya. Lalu bertanya, ibu tinggal di mana? Bisa jadi tak ada jawaban di sana. Yang didapati ibu itu adalah bentuk kasihan yang paling biadab di dunia ini.
Atau, aku urungkan saja niatku ini. Mungkin suatu hari nanti, aku akan bertemu dan bertatap dengan dirinya pada kesempatan yang bisa jadi ganjil setelah tanggal gagal ditanggalkan.
Fian N, sedang mendewasakan cita-citanya yakni ingin tidur lebih nyenyak.

Comments
Post a Comment