Skip to main content

Perempuan Itu Berwajah Sunyi

Ilustrasi: Pixabay

Ia tak pandai berciuman. Di hadapannya berdiri seorang lelaki yang dipenuhi nafsu. Wajahnya berwajah aku, lelaki itu. Dan, perempuan itu berwajah sunyi. Seluruh dirinya ia dedikasikan kepada setiap kedatangan yang serampangan, penuh keributan pada setiap derit ketakutan ada kerinduan untuk pulang ada segala yang telah jadi angan. 

Perempuan itu, tetap berwajah sunyi. Kepalanya dipenuhi binatang. Dadanya ada debar dari masa depan yang subur. Wajahnya tetap bermuara sunyi. 

Aku, lelaki itu, pergi lantaran tak sungguh. 

Pogopeo, 2020

Dari Rumah ke Rumah

Pintu-pintu diketuk. Jendela-jendela didobrak angin. Ventilasi, jalan masuk dan keluar segala keraguan. 

Sebaiknya di rumah saja. Nikmati sisa hidup dengan cara yang terserah. Kalau ingin seperti yang lain, dengarlah mereka dan pulanglah ke masa lalu. Jika ingin menjadi diri sendiri, beranjaklah dari terserah yang pernah berserah. 

Temukan pintu, ketuklah, mungkin dirimu mendengar bunyi itu. Sebab, ia ada di sana sedang menunggu kedatanganmu. Ada ventilasi yang sedang membawa segala ketidakmungkinan. 

Pogopeo, 2020

Fian N, menyukai tidur dan kamu. Selebihnya mencintai diri sendiri, tidak kurang dan juga tidak lebih. Musafir adalah buku kumpulan puisi perdananya. Di pondok ini, segala jejaknya, ia tinggalkan. Jika sempat mampirlah. 

Comments

Popular posts from this blog

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Jejak Kaki Siapa Itu?

Ilustrasi: Pixabay Pernah sekali, ia membawaku jauh ke tengah hatimu yang lapang dan penuh kelegaan. Aku diam di sana sampai menikmati beberapa rindu yang jatuh dari kepala dan mulutmu.  Aku pernah lalu-lalang di sana dan bahkan ada banyak tapak-tapak yang hampir lupa aku hapus, terlalu nyaman pun hangat.  Di dan dengan kaki ini, aku pernah menghabiskan beberapa kesempatan yang sesat. Di hatimu yang tenang, aku tinggalkan jejak yang luka dan menyakitkan. Pernah kutempuh perjalanan yang melelahkan sekaligus penuh kemaksiatan.  Baca Juga:  Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh Ya, memang kakiku yang malang juga jalang, tinggalkan jejak yang memilukan serentak memalukan. Aku tinggalkan bilur-bilur kehancuran dengan penuh kesadaran. Meninggalkan jejak yang penuh kesesatan. Ada nanah busuk yang bersumber dari kaki ini. Sampai-sampai, aku menjadi yang paling bangsat untuk sebuah kebaikan.  Dari kaki ini, aku merindukan sebuah kelumpuhan agar aku mengerti sebuah perjuangan menj...