Skip to main content

Kapan Kita Harus Menjadi Baik Untuk Diri Sendiri?


Ilustrasi: Pixabay


Halo, teman-teman pecinta kebaikan, hadir lagi bersama saya Fian N. Pada kesempatan ini saya akan berceloteh tentang Kapan Harus Berbuat Baik Untuk Diri Sendiri? 

Setiap detik adalah kebaikan. Tetapi ketika ditanya kapan maka jawabannya sudah saya katakan, setiap detik. Kadang, saya dan Anda tidak pernah menyadari akan hal itu. Kita selalu dituntut dan menilai sesuatu itu baik ketika bertindak dalam hal-hal yang besar. Manusia terjebak dan penilaian yang tidak objektif. Selalu ciptakan perbandingan yang gagal. 

Kebaikan akan dinilai baik ketika banyak tindakan besar yang dilakukan. Pola pikir demikian yang harus diubah. Hal kecil adalah sesuatu yang patut disyukuri. Tanpa harus berbuat baik kepada orang lain baru dikatan bahwa Anda itu baik. Tetapi ketika kita sudah berani berbuat baik pada diri sendiri setiap detik, maka di situ, Anda sudah dan sedang berbuat baik kepada diri sendiri. Bagaimana Anda bisa berbuat baik kepada orang lain jika pada diri sendiri pun Anda tidak mampu berbuat baik? 

Bagaimana teman-teman setelah baca sampai di sini, apakah terima dengan opini saya? Teman-teman boleh beropini bebas. Kalau bisa, silakan kirim ke saya. Saya siap tayangkan tulisan teman-teman di sini.

Oke, saya lanjut lagi. Kebaikan apa pun itu akan selalu kalah dengan satu kesalahan fatal. Beribu-ribu kebaikan yang sudah pernah dibuat, akan dinilai gagal (baca: buruk) di hadapan satu kesalahan. Diri kita akan dikatakan yang paling buruk ketika berhadapan dengan mulut-mulut yang hanya bisa menilai tanpa pernah bertindak melalui karya. Ya, memang ada penyedia dan penikmat. Tetapi, sekali lagi, manusia masih terjebak dalam zona baik dan buruk. Jika kita terus berasa dalam zona ini, maka kita tidak akan pernah berkembang menjadi manusia yang bebas dalam bertindak. 

Begitu saja hari ini. Nanti kita lanjutkan di kesempatan yang berikut. Akan ada tulisan lain yang bisa saya dan kita bagikan di sini. 
Terima kasih, mari berbagi kebaikan tanpa harus melihat besar dan kecil. 


Fian N, menyukai apa saja termasuk kematian. Menetap di Pondok Baca Mata Leza. 

Comments

Popular posts from this blog

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...