Skip to main content

Pater Dr. Alfons Betan, SVD: Ekseget Tenang


 Gambar: Facebook

Oleh: Reinard L. Meo


Tidak seperti beberapa dosen lain di #STFKLedalero, Alfons Betan sama sekali tak mencolok. Dia bicara seperlunya. Terlibat dalam ragam kegiatan dalam komunitas Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero juga seperlunya. dia tertib masuk kelas. Dia sangat terukur dalam bawakan kuliah. Amat minim dalam improvisasi -- mungkin karena dia paham, kadang improvisasi itu mengaburkan substansi materi.

Alfons seorang ekseget: sebutan bagi mereka yang menaruh konsen pada eksegese -- semacam ilmu tafsir Kitab Suci. Eksegese yang Alfons beri, kadang tidak asyik. Datar dan sangat jarang mengundang tawa -- mungkin karena dia paham, studi Kitab Suci pada dasarnya menuntut keseriusan.

Sebagai pembimbing skripsi, Alfons bukan lagi cukup, tapi amat diminati. Jika ingin jujur, Alfons diminati bukan karena banyak mahasiswi/a yang tertarik pada eksegese, tapi karena Alfons dosen pembimbing yang baik. Dan tidak suka bikin repot.

Tidak suka bikin repot itu ialah ini: mahasiswi/a datang membawa outline -- semacam rancangan daftar isi -- Alfons menerimanya, lalu tentukan waktu untuk kembali datang menerima hasil. Saat datang, Alfons sudah menyiapkan outline baru, lengkap dengan sejumlah buku sebagai rujukan.

Cerita ini bisa saja tidak benar. Saya bukan mahasiswa yang dia bimbing. Tapi, melihat aura kebapakan yang kuat terpancar dari wajah dan pembawaannya, Alfons sangat benar dalam hal tadi: tidak suka bikin repot.

Yah, mungkin karena dia paham, tafsir Kitab Suci itu tidak ada yang mutlak benar. Konteks selalu menuntut perubahan. subjektivitas penafsir juga kuat memengaruhi. Merepotkan mahasiswi/a sama saja mengingkari tesis-tesis dasar ini. Dan mungkin dia paham, Kitab Suci itu sendiri tak boleh buat mahasiswi/a terkatung-katung meraih sarjana.

Alfons telah meninggal. Lama tak mendengar kabar setelah meninggalkan Almamater, malam tadi, saya dapat berita bahwa Doktor Kitab Suci kita ini telah berpulang. STFK Ledalero dan Gereja Lokal kembali kehilangan salah satu ekseget yang tenang. 

Tenang, mungkin karena dia paham, semakin dalam kita belajar Kitab Suci, kita mestinya makin tenang di tengah dunia yang makin hari makin sesak dengan baku gesek ini.

Selamat jalan, Pastor. Kami memang kehilangan. Tapi kami yakin, akan muncul ekseget-ekseget baru yang paling kurang menghidupi kembali spiritmu: tenang.


Bajawa, 21 November 2020

Reinard L. Meo, spesialis ja'i yang tidak suka bikin repot. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Jejak Kaki Siapa Itu?

Ilustrasi: Pixabay Pernah sekali, ia membawaku jauh ke tengah hatimu yang lapang dan penuh kelegaan. Aku diam di sana sampai menikmati beberapa rindu yang jatuh dari kepala dan mulutmu.  Aku pernah lalu-lalang di sana dan bahkan ada banyak tapak-tapak yang hampir lupa aku hapus, terlalu nyaman pun hangat.  Di dan dengan kaki ini, aku pernah menghabiskan beberapa kesempatan yang sesat. Di hatimu yang tenang, aku tinggalkan jejak yang luka dan menyakitkan. Pernah kutempuh perjalanan yang melelahkan sekaligus penuh kemaksiatan.  Baca Juga:  Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh Ya, memang kakiku yang malang juga jalang, tinggalkan jejak yang memilukan serentak memalukan. Aku tinggalkan bilur-bilur kehancuran dengan penuh kesadaran. Meninggalkan jejak yang penuh kesesatan. Ada nanah busuk yang bersumber dari kaki ini. Sampai-sampai, aku menjadi yang paling bangsat untuk sebuah kebaikan.  Dari kaki ini, aku merindukan sebuah kelumpuhan agar aku mengerti sebuah perjuangan menj...