Skip to main content

Hari Sudah Sore, Kau Belum Juga Datang (Sebuah Dongeng Dari Negeri Yang Asing)

Ilustrasi: citangkolo.net

Mungkin, dirimu sedang berpikir bahwa aku menulis sesuatu tentangmu di sore ini. Bukan itu yang sedang aku pikirkan. Mungkin juga, pikirmu itu benar tapi tak seutuhnya tentangmu. Ini tentang segala hiruk-pikuk yang sudah dan sedang terjadi di akhir-akhir ini. Ah, aku ini sedang menulis atau sedang menjelaskan? Apakah aku sudah terlalu miskin dalam menulis? Atau, aku akan bosan ketika berhadapan dengan jenis tulisan ini! Bisa jadi demikian! Aku pun pergi dan aku yang lain masih bertanya-tanya.

Pertanyaan-pertanyaan itu terkadang membentur segala sesuatu yang ada di hadapannya. Tak peduli sekeras apa yang akan ditabraknya. Sebab, pertanyaan itu seperti hidup. Hidup yang sedang dijalani akan tetap begitu adanya jika tak ada yang berani mendobrak segala sesuatu yang berada di jalur yang tak benar. Tugas kita dan manusia yang lain adalah membuat hidup itu menjadi lebih mapan. Kejadian-kejadian di akhir-akhir ini, terkadang tinggalkan duka pun segala pilu yang paling memilukan. Apa dan bagaiman hal itu bisa terjadi?

Baca Juga: Persetubuhan dalam Cerita yang tak Jadi

Kita adalah serumpun manusia yang hanya bisa bertanya. Kita memilih untuk tidak memberikan jawaban. Tetapi apa yang kita lakukan? Memilih diam dan bertanya. Sesekali memberikan protes tanda ketidakpuasan. Dan aku adalah salah satu di antaranya. Mungkin dirimu juga. Ah, mengapa aku seperti sedang mengguruimu?

Semu itu yang aku rasakan ketika ada di negeri ini. Semua pengalaman mulai dibentuk pelahan. Segala cerita mungkin tak akan habis untuk kukisahkan. Masih banyak yang harus diproses untuk menjadi, menjadi apa saja. Lalu pada awal segalanya itu kumenulis demikian.

Sepanjang jalan kita masih penuh tanda tanya

Di situlah letak jawaban yang paling sederhana

Seperti doa-doa para nabi masa kini

Yang membentur jidat-jidat sendiri

Berorasi tentang kasih dan berbicara tentang sedekah

Tetapi di dalam budi terdapat bongkahan yang inginkan selangkangan

Dan jawaban-jawaban itu masih terus dipertanyakan

Sampai kapan dan akan jadi apa!

Hari-hari pertama di negeri ini, kumemulainya dengan sedikit bermalas-malasan. Minum kopi tanpa gairah. Menulis pun yang itu-itu saja, contohnya tulisan yang sedang dirimu baca saat ini. Melihat dan menukar sapa dengan orang-orang yang lewat di lorong depan kamarku dengan tatapan yang biasa-biasa saja. Pintu dibiarkan terbuka dan kadang malas untuk bergerak walau angin dengan gagah membuatnya terbuai. Kadang, kuberusaha semampuku untuk mengabarimu barang sesaat, namun jemari ini terlalu kampungan untuk menekan tombol-tombol angka yang sedari tadi ingin dijamah. Tapi, sekali lagi, jemari ini masih terlalu asing dengan barang-barang seperti itu. Pikirku, benda mati itu hanyalah hasil rekayasa semesta yang membuat manusia jadi instan. Sekali lagi, aku masih terlalu kampungan ketika tiba di negeri ini dan tidur pada sebuah kamar sendirian.

Baca Juga: Waktu Indonesia Berceloteh

Kopi memilih untuk lebih cepat dingin dari biasanya. Malam sudah tak sabar menjemput terang. Di luar, dari atas lantai delapan pada sebuah rumah yang menampung segala takutku, diriku menyaksikan orang-orang memburu senja dengan hanya bisa melompat saja. Tangan dan matanya tidak bisa menjangkau tinggi rumah ini. Menghalangi mata mereka untuk melihat keindahan barang sesaat saja. Mereka hanya menyaksikan sisa bias pada langit yang lain. Di tangan mereka terdapat tongkat narsis dan sebuah telepon genggam yang berharap mendapatkan momen terindah yang biasa disebut senja pada sebuah belakang rumah.

Mimpi-mimpi mereka tak pernah kesampaian. Diriku makin dan bertambah kasihan dengan orang-orang di negeri ini. Ah, bukannya diriku nanti akan rasakan hal yang sama seperti mereka-mereka itu? Dari tempat ini, pada sebuah kamar yang semakin pengap, diriku selalu bertanya-tanya pada ketidakmungkinan yang akan terjadi di hari depan. Sebab, hidup ini akan semakin tua dengan menyimpan ketakutan-ketakutan yang memenuhi kepala. Akankah ada kehidupan setelah ini? Apakah masih ada kemungkinan untuk hidup sekali lagi? Apakah tidak ada penemuan terbaru agar semua kita tetap hidup di usia yang tak bisa ditentukan dan sampai tak ada angka pada matematika yang mampu menghitung usia hidup kita?

Cuitan-cuitan ketakutan itu terus beranak-pinak pada kepala kita. Hari sudah benar-benar malam. Dan di luar sana masih ada pemandangan yang sama. Yang sedikit bergeser ke laut. Pada tubuh laut, tak ada lagi lampu nelayan pada sampan-sampan yang tak lagi merasa dingin dan asinnya laut. Semuanya berwarna kabur. Semua pemandangan berubah gelap. Hanyalah sampah-sampah manusia yang mengapung di atasnya. Hanya di negeri ini, ikan ingin pindah ke darat. Sepertinya bosan hidup di lautan yang tak ada birunya. Sudah tak ada lagi asin tapi kini asing. Asing bagi tubuh sendiri. Tapi, tapi, sudahlah. Jangan diterus, bakal panjang ceritanya kalau kisahkan tentang ini.

Masih dari kamar yang sama, pada lantai delapan di nomor kamar tujuh puluh empat. Aku masih menyaksikan orang-orang memperdebat tentang warna kemanusiaan. Apa gunanya hidup jika masih ada yang demikian. Di kamar ini, diriku coba menerjemahkan segala ingar-bingar itu. Diriku semakin kuat bekerja keras untuk memecahkan hal tolol itu. Sia-sia! Diriku tak mampu. Manusia semakin pandai. Diriku berkesimpulan sederhana, hanya di negeri ini, manusia-manusia hanya pandai menjatuhkan dari pada membangun. Manusia-manusia lebih pandai menabur muslihat dari pada nasihat yang menguatkan. Itu di negeri ini ketika diriku baru dalam perjalanan menuju dua puluh empat hari.

Selepas tentang malam. Aku menutup pintu kamar dan merayakan kesendirian. Di malam yang kian gelap, diriku merasa kian gerah. Dari luar, orang-orang memanggil namaku. Yang lain, entah dari mana tahu nomor kamarku, mendobrak pintu yang tidak tahu apa-apa tentang semua ini. Diriku hanya diam dan mendengar teriakkan itu. Semua caci maki dialamatkan padaku. Telingaku biasa-biasa saja. Pintu seperti sedang mendengar sebuah irama dangdut, mengikuti gerak yang mendobrak dari luar.

Apakah aku harus kasihan pada mereka yang dengan nafsunya menuntutku untuk keluar dari kamar ini? Apakah memang yang berteriak-teriak itu atas inisiatifnya sendiri? Atau mereka sedang diperalat demi kepentingan golongan tertentu? Atau? Atau? Atau? Atau? Tolol, kan? Kerja hanya bisa memperalat. Memperkeruh keadaan! Lalu pergi jadi bangkai kedengkian. Ah, hanya di negeri ini yang berlaku demikian. Semua orang bisa jadi sama. Mempertanyakan kebenaran yang dijawab adalah kemuslihatan. Yang dipersoalkan adalah manusia yang dijawab adalah binatang. Bisa-bisanya di negeri ini berbuat demikian. Manusia dibilang monyet. Manusia dibilang babi. Manusia di bilang anjing. Manusia dibilang, dibilangankan.

Dari kamar nomor tujuh puluh empat di ketinggian delapan lantai, diriku masih menyaksikan manusia-manusia yang demikian. Sedemikian brutalnya. Apakah diriku terlalu kasar ketika berkata demikian?

Sekali lagi, jemariku masih terlalu kampungan untuk menekan angka-angka yang sedari tadi ingin dijamah. Walau sekadar memesan makanan pada petugas hotel. Diriku tidak tahu apa istilah-istilah bagi mereka yang bekerja demikian. Sekali lagi, bukan hanya jemariku yang terlalu kampungan tetapi cara berpikirku juga masih terlalu kampungan. Misalnya, seperti tulisan yang sedang dirimu baca saat ini. Tidak ada nilai tambah bagimu jika kau ingin membacanya. Mungkin ketika melihat judulnya, dirimu bisa saja muntah-muntah. Apalagi akalmu, dia tak akan mampu bekerja seperti biasanya. Atau, karena dirimu yang terlalu sering dengan gawai sehingga tulisan kampungan seperti ini tak mampu kau terjemahkan ke dalam akal sehatmu.

Ini bukan sebuah lelucon atau kritik atas dirimu. Ini semacam narasi ketidaktahuan diriku ketika berada di lantai delapan pada sebuah rumah mewah dan berada tepat di kamar nomor tujuh puluh empat. Sejujurnya ini hanyalah fiksi semata. Jadi, dirimu bisa percaya dan juga tidak pun itu urusanmu.

Baca Juga: Panjang Umur Kegelisahan

Tiba-tiba, hari sudah sore, kau belum juga datang. Kita tak sempat bertemu, barang melepaskan ciuman sesaat. Tapi, terima kasih, kelak kau akan menemukan tulisan ini dengan nomor kamar yang tak lagi sama.

Terim kasih!

Maumere, 2019

*Cerita ini saya tulis waktu masih menetap di Maumere. tepat di bulan Agustus, di malam Kemerdekaan negeri ini.

*Fian N, tukang masak di Pondok Baca Mataleza. Menyukai apa saja, termasuk dirimu.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...