Skip to main content

Di Hape, Saya Menulis Beberapa Kesibukan yang Sering Bercokol di Kepala

Gambar: Dokpri

Sudah menjadi kebiasaan menulis di Hape, entah itu tulisan yang serius- yang butuh konsentrasi dan ketenangan, serta menulis hal-hal sederhana yang bisa ditulis dalam keadaan apa pun. Hal ini, saya lakukan sudah lama, lama sekali walaupun ada notebook sampai akhirnya tidak punya notebook, hape menjadi teman saya untuk mencurahkan segala kesibukan di kepala. 

Ada pengalaman-pengalaman suka dan duka yang sering saya tuliskan, dalam waktu yang bersamaan saya langsung membagikan tulisan itu melalui media sosial, FB, IG dan Blog. Setelah memosting tulisan di media sosial bukan  berarti titik kesibukan itu berakhir. 

Setelah menyelesaikan satu kesibukan maka beribu kesibukan datang beriringan bagai barisan para penuntut keadilan di negeri darurat kemanusiaan dalam sebuah kesempatan yang janggal. Di mana, ada sebagian sejarah yang dijarah dan dilenyapkan secara diam-diam. Petinggi negeri tak sadar bahwa, ingatan akan sejarah kelam, tak akan lekang oleh tameng apa pun. 

Itulah kesibukan yang mencuat satu-satu ke permukaan. Pada kesempatan lain ada kesibukan yang memburu tempat strategis untuk sebuah keserakahan. Mencari cara melalui dalil yang labil di tengah kemapanan penuh kontroversial. Ada yang berusaha saling menjatuhkan ketika ada individu yang menginginkan perubahan demi kesejahteraan banyak orang di negeri ini. Usaha-usaha itu menunjukkan sebuah kedunguan yang terstruktur, ketakutan terbongkarnya aib yang biadab, yang sudah lama diam dan diselundupkan, kalau saya tidak salah baca di sebuah berita itu tentang persoalan Ahok. (Bagaimana persoalannya, silakan cari sendiri kebenarannya. Hahaha) 

Saya sempat menanyakan beragam kesibukan saya di kepala ini, kapan semua ini akan berakhir? Tak ada jawaban pasti selain menunggu kepastian itu datang bertandang bawa kemenangan. Tapi, bukankah menunggu itu adalah sesuatu yang membosankan? Tidak semua persoalan menunggu itu membosankan. Menunggu ketidak pastian adalah sesuatu yang menyenangkan sambil berjaga-jaga segala kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya. Misalnya, menunggu keadilan, menunggu kesejahteraan, menunggu janji yang pernah dijanjikan. Sambil menunggu itu, saya sambil pelihara babi, tanam pisang, tanam pepaya, dan bantu bapak kerja sawah. 

Hal-hal itu atau segala kesibukan yang bercokol di kepala saya, dengan jelas menunjukkan sebuah keprihatinan yang penuh kekhawatiran. Jika hal ini terus dibiarkan, tanpa ada pihak-pihak atau individu yang berani 'mengganggu' ketidakstabilan itu, maka segala ketimpangan akan tetap umur panjang. 

Pada akhirnya, di hape ini saya menulis beberapa kesibukan yang terus mengusik ketenangan saya. Sampai-sampai saya lupa untuk menghindarinya, tapi, sayang, tak mampu. Dan jujur, kekasih, kau yang paling sibuk di kepala ini meskipun kau belum bernama di kepala saya. 

Saya juga seperti masyarakat yang lainnya, menunggu sesuatu yang belum pasti, apakah itu pertemuan atau kesempatan entah untuk ke berapa kalinya. 

Tetap, satu yang pasti, apa pun kesibukan yang paling sibuk di kepala ini, misalnya nasib negeri ini ke depannya, saya juga memikirkan kesibukan masa depan saya, jika itu bersamamu, andaikan saja. 

Terima kasih untuk dirimu, siapa saja, yang sudah membaca sebuah celoteh kesibukan yang janggal ini. Saya rela tangan ini pegal tahan Hape hanya karena mau menulis untuk dirimu dan kesibukanmu. 

Sampai jumpa pada kesibukan yang lain. 

Pogopeo, 2020

@catatan_fian, seorang anak manusia yang sedang mendewasakan mimpinya. Saat ini sedang dalam usaha membesarkan babi-babinya. Menunggu pepaya berbuah. Sesekali tidur agar bisa memimpikan dirimu. Sedang berharap untuk bisa bertemu wakil presiden negeri ini. Kesibukan lainnya adalah menjadi tukang masak di Pondok Baca Mataleza. 


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...