Skip to main content

Siapakah Saya (?)

Gambar: Dokpri

Sebagian orang memanggil saya Figo. Entah dari mana muncul nama itu, kelak Anda yang belum tahu akan menemukannya di sini seiring berjalannya waktu. Bukannya kikir atau sombong tidak mau jujur padamu tetapi saya hanya mau buat rasa penasaran Anda itu terus bertambah setiap waktunya.

Sebagian lagi memanggil saya Fian N, itu hingga saat ini. Sama, saya akan tambahkan rasa penasaran Anda setiap harinya. Ya, kalau tidak penasaran, berarti tebakan saya salah. Ya, tidak apa-apa lah.

Di rumah ini, saya akan dipanggil dua nama itu bagi Anda yang datang bertamu walau sesaat atau ingin berlama-lama.

Saya belum punya tungku api tetapi saya akan suguhkan pada Anda sarapan ala kadar yang bisa saja memabukkan, buat Anda baper tak karuan.

Dengan menulis, saya akan menceritakan dunia ide saya yang belum terstruktur rapi lagi baik. Saya biarkan isi kepala saya muncrat kapan saja. Hahaha, kalau dia su muncrat, siap-siap, Anda akan kena muncrat ini.

Dan, akhir-akhir ini, saya bersama beberapa teman mulai menggiatkan literasi melalui Pondok Baca Mataleza. Saya akan berbagi kepada Anda melalui Pondok Baca Mataleza. Di sini, saya akan sediakan beberapa menu makanan lokal yang menggugah selera Anda sebab, tugas saya adalah sebagai pemasak di Pondok Baca Mataleza.

Sampai di sini, silakan datang dan saya akan melayani Anda. Sebab, jujur, Saya adalah pemula yang abadi yang masih ingin terus menjadi musafir tanpa akhir.

Salam dari dapur tanpa asap, Fian N/ Figo

Comments

Popular posts from this blog

Ketika Malam di Maumere

  Ilustrasi: Pixabay Malam sudah tiba. Toko-toko menutup diri dari keramaian. Pengunjung pun mulai sepi. Karena tak ada pajangan yang sesuai. Maklum, di sini, sudah banyak orang mendedikasikan diri sebagai pemilih. Hidup materialistis tumbuh kian pesat. Orang-orang tak peduli, berapa besar pengeluaran selagi itu masih keluar dari dompet sendiri. Sedangkan yang lain, sibuk mengumpulkan botol-botol bekas, sampah plastik, yang dibuang dari tangan-tangan yang paling sampah. Baca Juga:  Rahasia Di waktu dan tempat yang lain, masih ada banyak adegan ranjang yang tak pantas. Ini adalah gambaran kita di masa kini. Saya yakin, bahwa kebiasaan ini bukan hanya terjadi di kota ini. Yang di sana dan di situ, pasti melakukan hal yang sama dengan takaran kesadaran yang berbeda. Atau, mungkin saya salah menduga? *** Ibu baru selesai menyiapkan sarapan pagi untuk ayah dan adik. Saya selalu menyiapkan sarapan pagi sendiri. Ibu tahu akan tugasnya. Menjadi istri dan menjadi ibu. Seringkali ...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...
  Mengapa Harus ke Pulau Kinde?   Foto: Iren Kawa Saya tidak akan menjawab pertanyaan dari judul tulisan ini. Tetapi saya mencoba untuk berbagi kisah tentang perjalanan saya bersama teman-teman menuju tempat ini, Pulau Kinde. Perjalanan kami mulai dari sini: Sejenak saya berhenti pada satu titik tenang, berdiam diri dalam pencarian, di mana letak Pulau Kinde. Menurut Wikipedia, Pulau Kinde terletak di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, Flores-NTT. Pantai ini seluas 11,36 ha dan memiliki pasir yang berwarna putih. Sejenak saya terkesima akan laporan dari Wikipedia ini. Bukan karena luasnya tetapi karena hamparan pasir putihnya. Untuk luas, tidak mungkin saya harus lelah-lelah mengukurnya lagi. Terpenting, ada dan keberadaannya sudah terlacak. Menjelang akhir Agustus, di tanggal 28-29, saya dan teman-teman memutuskan untuk bertamsya ke tempat ini. Tempat yang di mana begitu asing bagi saya yang adalah orang gunung. Dulu, melihat laut itu seperti melihat sebuah hamparan savana yang ...