Skip to main content

Pesan Ayah

Ilustrasi: Pixabay

Senja di tanggal akhir bulan juni. Mentari perlahan tenggelam ditemani hujan kecil yang turun bersama kabut yang kian mengepul, yang membuat aku menggeserkan tubuhku sedikit lebih dekat dengan api yang sedari tadi masih menyala. Ya, kedinginan itu hanya bisa diimbangi dengan kehangatan dari setiap kayu yang menyala yang sebentar lagi berubah menjadi arang.

“Nak, hidup ini susah,” kata ayah memecahkan keheningan yang menguasai kami di senja yang dingin itu. “Apakah kamu ingin merubah bangsa ini?” tanyanya lagi.

Aku terdiam mendengar pertanyaan ayah. Pertanyaan singkat namun memiliki arti yang sangat mendalam. Diamku bukan karena aku tak bisa menjawab pertanyaannya tetapi karena bagiku mungkin pertanyaan yang ia berikan kepadaku terlalu cepat mengingat aku baru saja duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas. Harus kuakui bahwa aku belum terlalu mengerti makna pertanyaan yang ia berikan kepadaku.

Enak Juga Baca Ini: Kehilangan Yang Tak Tergantikan

Aku menatap wajah ayah. Kulit yang kian keriput dengan rambut yang hampir semuanya memutih seakan pertanda bahwa usianya sudah tidak mudah lagi. Ya, ia memang sudah tua. Namun meskipun usianya menginjak senja, tetapi semangatnya tidak sebanding dengan usianya itu. Ibu pernah mengingatkannya agar tidak terlalu lama berjemur di bawa panas terik untuk menyiangi rumput liar yang tumbuh berdampingan dengan tanaman cengkih yang ditanamnya beberapa tahun silam, namun ia hanya tersenyum dan berkata, ‘Aku masih muda ma, aku masih kuat’.

“Apakah ayah suka berpolitik?” tanyaku merespon pertanyaan yang ia berikan kepadaku beberapa saat yang lalu. “Apakah kamu akan menjadi seorang politisi?” ia menjawab pertanyaanku dengan kembali bertanya.

Aku kembali terdiam mendengar pertanyaannya. Harus kuakui, meskipun setiap hari ia selalu menghabiskan waktunya di bawa atap ilalang, meskipun setiap hari ia hanya bergaul dengan cangkul, parang dan sabit, tetapi pengetahuannya tentang politik jangan dianggap enteng. Bukan karena ia pernah menjadi seorang politisi atau setidaknya memiliki latar belakang pengetahuan yang kuat tentang politik, tetapi karena kebiasaannya yang selalu mengisi waktu senggangnya dengan membaca berita harian yang termuat di surat kabar. Ya, ayah sangat suka membaca koran hingga terkadang ia lupa waktu untuk melanjutkan beberapa pekerjaan yang telah direncanakannya.

Enak Juga Baca Ini: Di Padang yang Pernah Kuceritakan dan dua puisi lainnya

Ayah sering mengeluh tentang perpolitikan negeri ini. Ia sangat membenci para politisi yang membawa negeri ini kepada kehancuran. Tatkala ditayangkan politisi yang tertangkap dan digiring ke ruang tahanan karena kasus korupsi, seribu komentar keluar dari mulutnya bahkan ia ingin agar mereka dihukum seberat-beratnya. Baginya, mereka adalah orang-orang yang telah mencederai politik bangsa ini. Mereka adalah tikus kantoran yang bersembunyi di balik jas hitam rapih dengan sepatu berkilat demi melanggengkan hasratnya merampas kebahagiaan rakyat.

“Ayah, kopinya jangan lupa diminum, nanti keburu dingin,” kataku sembari menyodorkan gelas kopinya. Huufft, ia menarik nafas panjang kemudian mengambil cangkir kopi yang ada di depannya lalu menyeduhnya. Rupanya kopi hitam itu keburu dingin sehingga ia menyeruputnya hingga menyisakan ampas pada dasar cangkir.

Ayah sangat mencintai kopi. Bisa dibilang bahwa ia adalah pencinta sejati kopi. Baginya kopi adalah inspirasi yang memberinya semangat untuk bekerja. Tidak pernah ia memulai harinya tanpa segelas kopi hitam. Kopi yang diminum pun bukan sembarang kopi. Ia tidak pernah minum kopi dari kemasan tertentu karena baginya kopi itu bukan kopi yang asli. Kopi yang ia suka adalah kopi yang ditumbuk langsung di dalam lesung sehingga kualitas alamiahnya masih terjamin. Warnanya hitam pekat dan aromanya sungguh menggoda. Itulah kopi Manggarai yang selalu diinginkannya.

“Ayah suka politik?” aku kembali mengulangi pertanyaan yang telah aku berikan beberapa saat yang lalu. Ia tersenyum kecil mendengar pertanyaanku. Ia sedikit bergeser merubah posisi duduknya.

“Nak,” kata ayah tertahan. “Kamu tahu bahwa setiap hari ayah selalu tiba di gubuk ini sebelum mentari terbit di ufuk timur. Ayah seringkali tidak menikmati sarapan pagi di rumah bersama kamu karena ayah selalu berangkat sebelum kamu bangun. Ayah hanya berpesan pada ibu agar ia tidak lupa menemani kamu untuk sarapan pagi.

Setiap hari ayah selalu menghabiskan sarapan pagi di dalam gubuk ini tanpa ada yang menemani. Setiap pagi mungkin kamu selalu bertanya tentang ayah, ketahuilah nak bahwa ayah harus berada di sini demi masa depan kamu. Di bawa panasnya mentari, ayah berjemur sambil mencabut rumput liar yang tumbuh di atas tanah kita ini. Ayah tidak ingin rumput-rumput itu menganggu semua tanaman yang sudah ayah tanam karena dari tanaman-tanaman ini ayah bisa menjamin masa depan kamu,” kata ayah.

Aku terdiam mendengar semua ucapan yang ayah utarakan padaku. Ucapan yang penuh makna tentang tujuan dari sebuah perjuangan. Yah, ayah adalah sosok pejuang yang berjuang untuk masa depan dari semua anak-anaknya. Hufftt, ayah kembali menarik napas panjang.

“Anakku,” katanya dengan nafas tertahan. “Mungkin ayah hanya bisa memberi komentar tentang politik di negeri kita ini dari dalam gubuk tua ini. Untuk bersekolah lagi, itu menjadi hal yang tidak mungkin lagi bagi ayah. Masa itu telah berlalu dari kehidupan ayah. Tetapi ayah memiliki kamu sebagai penyambung inspirasi yang selalu ayah sorakan dari gubuk tua ini. Kamu adalah masa depan bangsa ini dan di tanganmu arah dan tujuan ke mana langkah negeri ini berpijak selanjutnya. Mungkin kamu katakan bahwa ayahmu ini sudah tua tapi ingatlah anakku bahwa semangat ayahmu ini untuk menyekolahkan kamu hingga kamu menggapai cita-citamu tidaklah pernah tua.

Walaupun fisik ayah sudah tua tetapi ayah tidak pernah tua untuk mendukung bahkan menunggu kamu menggapai cita-citamu. Tapi ingatlah nak, suatu hari nanti jika kamu telah menggapai cita-citamu itu, jika kamu telah menjadi seorang politisi negeri ini, jika kamu menjadi nahkoda yang menentukan arah dan tujuan negeri ini, lakukanlah tugas itu dengan sepenuh hatimu. Itu adalah tugas mulia yang harus kamu jalani dengan cara yang mulia,” kata ayah. Aku tertegun mendengar ucapan yang ia berikan.

   ***

Lima menit berlalu namun keheningan tetap menguasai ruangan itu. Hanya getaran jarum jam yang berdetak sembari menjajak angka-angka yang tertinggal di balik kaca ditemani dengan suara jangkrik yang beberapa kali berdendang dengan merdunya.

Mata lelaki paru baya itu mengamat-amati beberapa lembaran dokumen yang tergeletak di atas meja kerjanya. Sesekali ia membuka lembaran lainnya dan berhenti dengan tatapan yang serius menatapi setiap tulisan-tulisan di dalamnya sebelum ia kembali membuka lembaran lainnya.

Sesekali wajahnya terangkat dan memperhatikan tiga pria muda berjas rapih yang duduk di depannya, sesekali juga ia menatap ke depan dengan tatapan kosong, entah apa yang dipikirkannya, hanya dia sendirilah yang tahu.

“Pak Andi, sudah sejam kita berada di tempat ini untuk mendengarkan kelanjutan dari bisnis yang telah kita rancang bersama. Sebulan yang lalu bapak telah berjanji kepada perusahaan kami untuk mengizinkan usaha kami di tempat ini dan bapak telah menyepakati untuk bekerja sama dengan kami. Saat ini kami ingin meminta agar bapak menindaklanjutkan segala janji yang telah bapak berikan kepada kami,” seorang pria berkacamata yang sedari tadi duduk di depannya mulai mengusir keheningan yang menguasai ruangan itu.

“Apakah bisnis ini benar-benar menguntungkan rakyatku secara umum? Saya takut bisnis ini membawa kerugian bagi kehidupan mereka apalagi merampas kebahagiaan mereka,” kata pak Andi dengan nada datar tetapi tegas.

“Bapak tak perlu cemas karena semuanya telah kami rancang secara matang. Bisnis ini akan menguntungkan masyarakat secara umum, tetapi lebih dari itu bisnis ini akan membawa keuntungan yang lebih besar kepada bapak dan juga kepada perusahaan kami. Kami jamin bahwa bapak akan memperoleh keuntungan yang sangat besar dari bisnis ini asalkan bapak bersedia untuk menandatangani dokumen ini,” kata pria itu sambil menyodorkan sebuah dokumen yang dibungkus dengan map berwarna merah.

Pak Andi memperhatikan dokumen yang ada di depannya itu dengan tatapan tajam. Sebentar kemudian ia membukanya dan membaca dengan serius setiap kata yang tertulis dalam lembaran itu. Sepuluh menit ia membaca semua isi dokumen itu lalu disimpannya kembali ke atas meja kerjanya.

Huufft, ia menarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Sesaat kemudian keheningan kembali menguasai mereka. Entah mengapa, tiba-tiba dalam keheningan itu bayangan dua puluh tahun silam kembali merasuki alam pikirannya. Tiba-tiba saja suara ayahnya kembali menggema di dalam keheningannya.

 “..., Tapi ingatlah nak, suatu hari nanti jika kamu telah menggapai cita-citamu itu, jika kamu telah menjadi seorang politisi negeri ini, jika kamu menjadi nahkoda yang menentukan arah dan tujuan negeri ini, lakukanlah tugas itu dengan sepenuh hatimu. Itu adalah tugas mulia yang harus kamu jalani dengan cara yang mulia,” kata-kata ini kembali menggema dalam alam pikirannya.

Dengan tersenyum pak Andi mengangkat kepalanya dan memandang pria yang berdiri di depannya itu. Tangannya mengambil lembaran map merah yang tergeletak di atas meja kerjanya dan menyodorkannya kembali kepada seorang pria yang lainnya yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraannya dengan pria berkacamata yang berdiri di depannya itu.

“Maaf bapak-bapak. Bukannya saya ingin mengecewakan anda sekalian atau perusahaan yang sudah mengajak saya untuk bekerja sama, tetapi setelah saya renungkan bahwa alangkah biadabnya saya ketika saya hanya memainkan kata tanpa memberi nyata atas semua ucapan yang pernah saya berikan kepada rakyat.

Saya di sini untuk membawa rakyat menuju kebahagiaan dengan memberi mereka jaminan atas semua kebutuhan mereka. Kerjasama yang kita rencanakan ini memang baik tetapi apakah baik itu juga untuk seluruh rakyatku?” kata pak Andi.

Keheningan kembali menguasai. Ketiga pria yang berdiri di depannya kini tertunduk lesu entah karena kata-kata yang dia ucapkan atau mungkin juga karena mereka kehabisan kata dan daya untuk melunakkan hatinya. Tampaknya mereka mengerti tentang makna dari setiap kata yang pak Andi ucapkan sehingga tak ada lagi daya bagi mereka untuk memaksanya lagi.

Di sela keheningan itu, ketiga pria itu memohon pamit kepada pak Andi. Mereka pergi dengan kebisuan sebab kata-kata pak Andi menyiratkan sebuah jawaban yang tidak mereka inginkan tetapi yang mereka butuhkan. “Ayah, akan kuingat selalu pesanmu,” gumam pak Andi tersenyum sembari mengiringi kepergian ketiga pria itu.

Maumere, 2019

Stefan B, mahasiswa aktif di STFK Ledalero. Menyukai apa saja termasuk kamu.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...