Skip to main content

Di Sebuah Kios Yang Sepi, Tuhan Menunggu Pembeli

Ilustrasi: Pixabay

Dua orang pelayan menanti pembeli di sela-sela sepi. Akhir-akhir ini sepi semakin ramai berdatangan setelah manusia-manusia itu diserang wabah dari negeri seberang. Kaki-kaki ingin, diliburkan sementara dengan jangka waktu yang tak menentu,” kata seorang sambil menanti penuh cemas.

“Apakah kita ikut menyepi dari segala kesepian yang mewabah ini?” tanya seorang pelayan yang sedari tadi duduk saja dan tidak berbuat apa-apa.

“Hallo, bibi. Di sini ada jual masker?” tanya seorang ibu yang masuk tiba-tiba. Dari meja kasir, saya menjawab, “di sini tidak jual masker, bu. Kalaupun ada, harga masker sudah berubah, tidak sama dengan harga bulan kemarin. Info terbaru, harga masker lebih mahal dari sekilo beras. Bisa jadi orang makan masker untuk ganti beras.” Jawab saya sambil menyakinkan ibu yang mungkin tidak merasa yakin.

“Saya dengan anak yang sedang sakit tadi sudah sampai di Rumah Sakit
tetapi disuruh pulang oleh petugas kesehatan. Kami diminta untuk pulang dan
kenakan masker,” kata ibu itu penuh kesedihan.

Ketika kematian mencekik di batang leher, manusia tidak bisa
menghentikannya. Masker, apakah bisa menghentikan kematian itu?

Dari sebuah kios yang sepi, Tuhan menunggu pembeli yang letih. Seorang
ibu yang pasrah. Seorang anak yang kesakitan. Kami yang hanya bisa bersabar.

Dua musim tanpa siuman, kini manusia kebingungan. Segala cara dihalalkan.
Sebagian manusia mendoakan manusia yang lain. Yang sebagian lagi sedang
merancang strategi meraup keuntungan di tengah paceklik.

Tuhan, di kios ini, kami makin sepi. Pembeli memilih pergi dalam waktu
yang tak pasti. Lantas kami mencari apa?

Doa patah. Tumbuh putus asa. Pasrah, tapi harus ke mana?

Boawae, 2020


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Jejak Kaki Siapa Itu?

Ilustrasi: Pixabay Pernah sekali, ia membawaku jauh ke tengah hatimu yang lapang dan penuh kelegaan. Aku diam di sana sampai menikmati beberapa rindu yang jatuh dari kepala dan mulutmu.  Aku pernah lalu-lalang di sana dan bahkan ada banyak tapak-tapak yang hampir lupa aku hapus, terlalu nyaman pun hangat.  Di dan dengan kaki ini, aku pernah menghabiskan beberapa kesempatan yang sesat. Di hatimu yang tenang, aku tinggalkan jejak yang luka dan menyakitkan. Pernah kutempuh perjalanan yang melelahkan sekaligus penuh kemaksiatan.  Baca Juga:  Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh Ya, memang kakiku yang malang juga jalang, tinggalkan jejak yang memilukan serentak memalukan. Aku tinggalkan bilur-bilur kehancuran dengan penuh kesadaran. Meninggalkan jejak yang penuh kesesatan. Ada nanah busuk yang bersumber dari kaki ini. Sampai-sampai, aku menjadi yang paling bangsat untuk sebuah kebaikan.  Dari kaki ini, aku merindukan sebuah kelumpuhan agar aku mengerti sebuah perjuangan menj...