Skip to main content
Ilustrasi: Pixabay

Sesekali Kita Berbicara Ponsel Dan Kematian

Sebab sinyal-sinyal kini sedang menepi ke kuburan.
Kekosongan telah menjelma kutukan
Dan kita telah mengutuk diri sendiri menjadi batu

Layar ponsel di kepala dan selusin kecemasan bermekaran
Setelah Tuhan meredupkannya
Ketakutan akan kematian semakin tak mengenal batas

Di hadapan keinginan yang semakin hari membawa gaduh
Seorang ibu tak pernah selesai menanak doanya
Anak-anak telah kehilangan tawa, di bawah murung dalam kurungan

Dalam kesunyian yang meronta-ronta
Kita telah kehilangan kendali pada kepala yang selalu menunduk
Sebab Tuhan dalam gengaman adalah penyerahan paling khusyuk.

Pulo Bembe, 24/05/2020

Dari Dalam Rumah Telah Lahir Sunyi

Dari dalam rumah
Layar tv menyala-nyala
Lantas tawa hilang ke mana
Kecemasan bertambah dua

Dari dalam rumah
Iklan-iklan memaksa kita menjadi lebih
Menertawakan kita yang dirundung duka
Sebab mata tak henti-hentinya menghitung angka
Sebab kepala menjelma beringas
Di hadapan keinginan
Kita mematikan kendali

Dari dalam rumah
Di depan layar tv
Segala kata terucap
Segala-galanya memukau kita

Pulo Bembe, 05/06/2020

Kita Tidak Di Bunuh Bu'

Mata-mata mendadak sayu telah kutemukan di dasar laut
Setelah berita di layar TV membawa kabar tentang sebuah pencurian

Dan iklan-iklan kembali menggeser beranda kepala orang-orang, menjadikannya mereka berontak pada kenyataan.

Setelah Tuhan menciptakan lautan
Mereka datang dengan membawa kerakusan, ingatan yang menyimpang barang-barang eletronik dan cetakan mata bergambar angka-angka telah meleburkan batasan.

Anak tetangga sedang mengurung diri di kamar, setelah menebas kepala bapaknya dengan sebentuk permintaan. Sedang ibunya kini berusaha merayakan kematian pada pikirannya.

Aku menggambar anak-anak dalam diriku
Yang tak berbicara pakaian dan sesembahan

Kita tidak sesuatu yang dibunuh bu'
Oleh keinginan-keinginan di luar batasan
Yang menolak untuk dikejar
Oleh orang-orang seperti kita.

Pulo Bembe, 15/05/2020

Harsandi Pratama Putra lahir di Pulo Bembe Kabupaten Kepulauan Selayar Provinsi Sulawesi Selatan Pada tanggal 17 Mei 1998. Kini masih aktif sebagai mahasiswa di kampus UIN Alauddin Makassar mengambil prodi Jurnalistik.

Asyik Juga Baca Ini: Ini Puisi Apa? 

Comments

Popular posts from this blog

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...

Tentang Kehilangan Yang Meninggalkan Luka

Ilustrasi:  Pixabay Saya pernah kehilangan seseorang yang dulunya saya kagumi dan saya banggakan. Yang saya cintai yang saya sayangi. Iya, benar. Saya alami itu. Teman saya bercerita dengan serius. Saya juga dengar dengan serius. Iya, sebagai teman. Saya dan juga Anda harus berani ambil sikap untuk menjadi pendengar tanpa harus membantah. Biarkan dia bercerita sepuasnya. Biarkan unek-uneknya ke luar. Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan lagi.  Kami memulai sebuah hubungan karena suka sama suka dan atas dasar cinta yang sama. Cinta, ya, cinta. Lagi dan lagi karena cinta, kami disatukan. Kami berencana untuk tidak memberitahu siapa pun tentang hubungan kami ini. Juga tidak kepada orang tua kami. Kami sepakat dan dalam kesepakatan itu kami berjanji untuk tidak melakukan sebuah hubungan yang laiknya pasutri baru. Namun, akhirnya kami jatuh juga dalam sebuah cinta yang erotis. Cinta yang datang karena nafsu. Kami tuntaskan itu dengan penuh sungguh. Penuh seluruh dan tan...

Rumah Yang Teriak Minta Tolong

Ilustrasi: Pixabay Rumah itu sunyi. Ia sembunyi dari keramaian sendiri. Segala perabotannya dibuat dari masa lalu. Penuh dengan kebaikan dan disesaki masalah. Atapnya dari ilalang ingatan. Fondasinya dibuat dari kaki-kaki juang yang sebagian jalang. Semuanya lengkap dengan kesakitan dan kesehatan. Seluruh penghuninya penuh dengan bualan-bualan yang dipaksakan. Semua diberikan sekat-sekat yang teratur.  Setiap pagi, halamannya dipenuhi sampah yang meluap dari got yang datang dari luar pagar. Atapnya ditetesi embun malam yang subuh. Di dapur, ada wangian bumbu nasi goreng yang sedikit hangus. Di meja makan, piring, sendok, dan gelas sedang menunggu pelukan hangat kekenyangan. Semua rapi dan tampak berisi. Lemari dingin penuh dengan kangen dan ciuman, agar selalu awet dan tetap segar, bugar. Buah apel yang dimakan Hawa, ada di dalamnya. Daging domba sisa bakaran oleh Abraham untuk Tuhan pun ada di dalam lemari pendingin.  Setelah siang selesai, sore datang tergesa-gesa. Musi...