Skip to main content

Bapak dan Beberapa Catatan Masa Kecil Bersamanya

Gambar: Dokpri
(Bapak sedang memasak minyak kelapa secara manual) 

Malam Ini, Tidur Lagi di Sawah

Kurang lebih sepuluh tahun silam itulah waktu terakhir kalinya saya tidur di sawah, bersama bapak, mama dan adik-adik. Pondok tanpa dinding, angin dari empat penjuru, bunyi-bunyian binatang malam dan nyanyian burung sawah, selalu merdu di kepala masa kanak-kanak saya. Kami tidak hanya sekadar tidur di sawah, kadang bapak membuat minyak kelapa dengan cara memasaknya secara manual. Kami dengan segala ketidaksabaran menanti minyak itu jadi. Selama proses pembuatan, kami di larang turun naik dari bale-bale atau sekadar jalan-jalan di sekitar tungku. Dengan keras bapak akan katakan, palagana-palagana keso cio. Zapa minya mona jadi, ke ai. Cukup begitu, masa kanak-kanak kami ciut. Mama akan diam saja. Kami pun demikian. Tapi sebenarnya bapak tidak pernah benar-benar marah. Di saat itu, wangian kelapa matang sebelum masak jadi minyak, memenuhi pondok. Benar-benar menggugah selera. Kami akan senang bukan main.

Santan kelapa yang dimasak itu, bisa menghasilkan empat bahkan sampai lima liter minyak kelapa yang diolah secara manual. Hal ini tidak asing bagi kami. Sudah menjadi sesuatu yang klasik.

Dan, malam ini, saya kembali digiring ke masa lalu. Saya tidur dengan bapak di sawah, hanya kami berdua, bertiga dengan dingin, berempat dengan dingin. Tak ada proses pembuatan minyak kelapa. Bunyi binatang malam masih ramai di telinga. Kali ini sedikit berbeda, di langit, bulan sempurna.

Di samping saya, bapak sudah lama tidur. Saya masih duduk dan menuliskan kisah ini untukmu. Jika dirimu membacanya, dan ingin seperti kisahku, mari saya akan mengajakmu ke sawah dan kita akan buat kenangan yang tak akan lupa dikenang. Dan malam ini, kisahnya sampai di sini saja, sebab masih ada malam-malam lain yang akan kukisahkan lagi untukmu.

Mari, sayang, tidurlah di mataku.

Balejawa, 22:21, 05/06/2020

Makin Enak Kalau Tidur di Sawah

Masih seperti kemarin, seperti malam-malam sebelumnya. Tapi, di langit tak ada bintang dan bulan, tampak gelap. Mungkin besok hujan akan jatuh basahi tubuh kita, bumi.

Saya duduk, sedikit berjarak dari bapak. Melihat lalu mencoba menebak, apakah bapak masih seperti dulu? Oh, tidak. Bapak tidak seperti dulu lagi. Masih tegar tapi mungkin dipaksakan. Pecah pada tumitnya, kian banyak. Tapi, bagi bapak itu hal yang biasa karena harus ke sawah dan ke bukit dan ke mana saja.

Oh, maaf, saya harus cerita tentang malam ini. Seperti tampak pada gambar, bapak sedang memasak minyak kelapa secara manual. Bapak dengan tenang dan sabar mengaduk secara berulang-ulang. Bagi saya, melakukan hal yang sama dalam rentan waktu yang tak begitu lama, itu membosankan. Bagi bapak, itu tidak akan terjadi.

Masih dengan sabar, saya menunggu dan terus menunggu. Dan makin enak kalau tidur di sawah dengan mengulang kisah masa kecil yang mungkin tak pernah dialami sebagian anak manusia di belahan bumi ini.

Terima kasih, bapak. Terima kasih, Petani. Terima kasih masa kecil yang menyimpan begitu banyak kenangan.

(Ini adalah catatan dari saya untuk bapak yang hari ini merayakan ulang tahunnya. Dengan harapan, doa dari pembaca senantiasa menemani bapak di usia hidup selanjutnya. Terima kasih dan Tuhan jaga kita.) 

Balejawa, 20:57, 08/06/2020

Asyik juga baca ini: Siapakah Saya (?)


Comments

Popular posts from this blog

Tips 3 Langkah Menjadi Bodoh

  Sumber: idntimes Oke, please open the door and welcome to my house. Hallo, selamat datang di Catatanalfianus, rumah dengan menu makan pangan lokal. Jangan berharap makan enak apalagi sampai mau tambah, itu tidak ada di rumah ini, tetapi kalau mau coba, silakan, tidak ada batasan waktu atau larangan. Hallo, my dear friends, pada kesempatan ini, saya sebagai tuan rumah akan menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ada di luar sana, di rumah-rumah yang ditemui. Ada banyak yang berbicara bagaimana bisa menjadi pintar, bahagia, dan bahagia, ya bahagia. Tetapi, orang lupa bahwa, saya dan mungkin termasuk kita, tentu perlu belajar untuk menjadi bodoh. Mengapa? Di dunia ini, tidak ada orang yang ingin menjadi bodoh tetapi ada banyak yang memilih terlihat bodoh di hadapan orang lain dan bahkan untuk dirinya sendiri. Itu banyak, banyak sekali di dunia yang penuh sandiwara ini. Bahkan ada banyak orang yang sok pintar di hadapan yang lain. Dan, saya teringat akan Cak Lontong,...

Pondok Baca Mataleza: Kami Mulai Dari Mimpi (Part I)

Gambar: Dokpri Pondok Baca Mataleza Tidak perlu menunggu tidur jika hanya untuk bermimpi (Fian N) Satu minggu sebelum seluruh aktivitas di luar rumah dibatasi, kami (sebut saja: Fian N, Thomi, dan Zeno) telah merencanakan untuk hadirkan komunitas baca di Boawae, Olakile Khususnya. Percakapan kami dimulai dengan pertanyaan dari saudara Zeno melalui mesengger. “Ame, di lemari ada buku apa saja?” tanya Zeno. “Saya buku politik tidak banyak, Ame.” Saya yakin dan menduga bahwa pertanyaan itu merujuk pada buku politik. Saya menebak saja, bahwa jiwa anak muda itu jiwa politik. Dan ternyata dugaan saya itu salah. “Tidak, ame. Saya ni punya semangat mau dorong ame untuk buka taman baca di Boawae la.” Dipenuhi rasa kaget, saya sedang merangkai kembali mimpi. Mimpi yang pernah saya impikan saat sedang menghabiskan rasa malas di kursi kuliah. Tanpa menunggu lama, saya pun menjawab. “Kapan kita kumpul, ame?” Selasa pun tiba, kami berkumpul. Merencanakan dengan segala ide yang tak segan-sega...

Mama

  Gambar: mediaputrabhayangkara.com Dalam dunia kehidupan ada dua macam ibu. Pertama ialah sebutan unt u k seorang perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat anak orang lain. Yang paling istimewa adalah jika dua sifat itu bergabung menjadi dalam satu pribadi. (Arswendo Atmowiloto) Ada yang bilang dirimu cantik. Ada yang bilang dirimu itu puisi yang tak mampu untuk disandingkan dengan apapun. Ada yang bilang dirimu itu bunga, yang tak pernah layu di bawah terik surya. Aku pun bilang, dirimu itu perempuan , y ang bisa menjadi seorang lelaki. Yang bisa menjadi seperti perempuan lain tanpa harus menjadi seperti yang lain. Dengan caramu, dengan segala yang dirimu punya. Mama, nama yang kusebut selalu saat jauh maupun dekat. Bagiku, berada di dekatmu adalah sebuah keharusan. Segala pedih perih hilang seketika ketika belaian tanganmu memainkan rambutku. Baca Juga:  Jejak Kaki Siapa Itu? Suatu hari yang ja...